businessadviceserviceblog.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penutupan yang melemah pada Selasa sore, turun 18,40 poin atau 0,26 persen ke posisi 6.971,03. Penurunan ini disebabkan oleh ketidakpastian yang menyelimuti konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang kini menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyatakan bahwa baik IHSG maupun bursa saham regional di Asia tertekan oleh perkembangan situasi di Timur Tengah. Pelaku pasar mencermati kemungkinan terjadinya negosiasi gencatan senjata, meskipun retorika antara kedua negara menunjukkan eskalasi. Di satu sisi, terjadi protes mengenai potensi ancaman penutupan Selat Hormuz yang dikemukakan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Dari sisi domestik, nilai tukar rupiah juga tertekan, mencapai Rp17.106 per dolar AS, sejalan dengan ketegangan geopolitik global. Ketidakpastian yang mengelilingi krisis ini berpotensi memperbesar defisit anggaran negara.
IHSG dibuka dengan penguatan namun berbalik menjadi negatif seiring berjalannya perdagangan. Di sektor-sektor, sektor infrastruktur mencatatkan kenaikan 0,56 persen, sedangkan sektor industri mengalami penurunan paling dalam sebesar 2,51 persen. Dalam perdagangan, tercatat sebanyak 250 saham mengalami penguatan, sementara 407 saham mengalami penurunan.
Secara keseluruhan, frekuensi perdagangan mencapai 1.767.356 kali transaksi, dengan total nilai saham yang diperdagangkan sekitar Rp13,48 triliun. Sementara itu, bursa saham regional Asia menunjukkan pergerakan beragam, di mana indeks Nikkei mengalami penguatan, sementara indeks Hang Seng dan Strait Times melemah.