businessadviceserviceblog.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa industri perbankan Indonesia mampu menghadapi dampak dari konflik di Timur Tengah. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan bahwa permodalan bank, yang tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR), saat ini berada di kisaran 25-27 persen, jauh melampaui ketentuan internasional. “Kita pernah menghadapi situasi yang lebih parah, seperti pandemi COVID-19, dan mampu bertahan dengan kebijakan yang ada,” ujarnya di DPR RI, Jakarta, Rabu.
Dian menjelaskan bahwa dampak dari konflik tersebut akan bergantung pada lamanya situasi yang berlangsung. Analisis terus dilakukan untuk mengidentifikasi risiko yang mungkin muncul, yang bisa memengaruhi sistem keuangan melalui nilai tukar, inflasi, dan indikator lainnya. Proses pemantauan dilakukan secara berkala, bahkan untuk masing-masing bank.
Dian juga menyoroti bahwa bank-bank secara sukarela melakukan uji stres (stress test) untuk mengevaluasi ketahanan mereka. Mengenai proyeksi net interest margin (NIM) tahun ini, ia menyebutkan bahwa situasi ekonomi dan beberapa faktor seperti suku bunga dan simpanan sangat berpengaruh, sehingga hasil analisis lebih dalam diperlukan sebelum memberikan kepastian.
Sebelumnya, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) juga menjamin bahwa industri perbankan memperkuat langkah-langkah prudensial sebagai respons terhadap ketidakpastian global. Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, menegaskan bahwa indikator fundamental perbankan tetap solid, dengan pertumbuhan kredit yang baik dan likuiditas yang memadai. Langkah mitigasi yang diterapkan termasuk penguatan sistem peringatan dini untuk mengantisipasi penurunan kualitas kredit.