businessadviceserviceblog.com – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengungkapkan bahwa penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) telah memberikan dampak positif bagi industri keramik domestik, dengan utilisasi saat ini mencapai 78 persen. Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, dalam pernyataan di Jakarta pada Kamis, menyebutkan meskipun industri masih menghadapi tantangan dari impor ilegal dan praktik dumping, kebijakan pemerintah berhasil memberikan perlindungan kepada produsen lokal.
Edy mencatat bahwa utilisasi industri keramik mengalami peningkatan signifikan dari angka 66 persen pada tahun 2024 menjadi 78 persen pada bulan Desember ini. Peningkatan tersebut diatribusikan kepada beberapa kebijakan pemerintah, di antaranya SNI wajib dan bea masuk anti-dumping (BMAD), serta kebijakan safeguard dan perpanjangan harga gas bumi tertentu (HGBT).
Pengujian produk impor, lanjut Edy, sebaiknya diselenggarakan di balai pengujian Kementerian Perindustrian, seperti yang diterapkan di Malaysia dan Vietnam yang menggunakan sistem sertifikasi terpusat. Ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan mengurangi ketergantungan pada produk impor.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk mengawal pelaksanaan SNI wajib dan kebijakan lainnya untuk menjaga industri keramik nasional. Permintaan pasar yang terus tumbuh baik domestik maupun ekspor menunjukkan potensi besar bagi perkembangan sektor ini. Kebijakan yang diterapkan diharapkan mampu menciptakan iklim usaha yang lebih baik bagi investasi di industri keramik, tableware, dan glassware di Indonesia.