businessadviceserviceblog.com – Nilai tukar rupiah pada Rabu pagi menunjukkan penguatan sebesar 55 poin atau 0,32 persen, menjadi Rp16.986 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya yang berada di Rp17.041 per dolar AS. Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebutkan bahwa penguatan ini dipicu oleh optimisme terhadap deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam analisisnya, Rully memprediksi bahwa rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.940 hingga Rp17.040 pada hari ini, seiring dengan penurunan indeks dolar yang terjadi. Dia menjelaskan, sentimen positif pasar terkait penurunan ketegangan militer ini muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, mengisyaratkan kesediaan untuk mengakhiri operasi militer di Iran, meskipun Selat Hormuz masih terpengaruh.
Laporan dari The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, Trump dan timnya mempertimbangkan bahwa membuka Selat Hormuz sepenuhnya dapat memperpanjang konflik yang sebelumnya direncanakan hanya berlangsung antara empat hingga enam pekan. Tujuan utama pemerintah AS kini adalah membatasi kemampuan angkatan laut Iran dan meredakan permusuhan sambil menekan Tehran untuk mengembalikan kelancaran arus perdagangan.
Kondisi domestik juga menunjukkan tanda-tanda positif, dengan inflasi Indonesia diperkirakan melandai menjadi 3,65 persen pada Maret 2026, berkat pengendalian harga pangan dan insentif tarif listrik. Rully menambahkan bahwa neraca perdagangan Indonesia diprediksi tetap surplus, mencapai 1,5 miliar dolar AS, berkat peningkatan ekspor dan impor.
Namun, pelaku pasar tetap waspada, terutama terkait fluktuasi harga minyak yang masih berada di level 100 dolar AS per barel. Keadaan ini menunjukkan perlunya perhatian dari pemerintah dan pelaku pasar untuk memastikan stabilitas ekonomi.