businessadviceserviceblog.com – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau yang biasa dikenal sebagai Titiek Soeharto, menyatakan bahwa revitalisasi pabrik pupuk merupakan investasi penting untuk meningkatkan kemandirian industri dan ketahanan pangan nasional. Pernyataan tersebut disampaikan dalam peresmian revitalisasi Pabrik Amonia Kaltim II milik Pupuk Kalimantan Timur (PKT) di Bontang, Kalimantan Timur, pada hari Kamis.
Titiek menjelaskan bahwa proyek ini bukan hanya tentang pembaruan teknologi, tetapi merupakan langkah strategis guna menjamin kedaulatan pangan Indonesia. Ia menekankan pentingnya pabrik ini dalam sejarah ketahanan pangan bangsa, karena selama empat dekade, pabrik ini menjadi penyedia amonia sebagai bahan baku pupuk yang esensial bagi pertanian dan kehidupan petani di Indonesia.
“Sejak awal, kita menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh bergantung pada pangan dari negara lain,” tuturnya. Untuk itu, produksi pupuk dianggap sebagai elemen krusial dalam mempertahankan daya saing pertanian nasional dan mewujudkan ketahanan pangan.
Proses revitalisasi Pabrik Amonia Kaltim II, yang pertama kali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1984, diharapkan dapat menghemat biaya operasional hingga Rp200 miliar dan mengurangi emisi karbon mencapai 110 ribu ton per tahun. Dengan penerapan teknologi modern, efisiensi energi dan penggunaan gas alam juga akan ditingkatkan.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengungkapkan bahwa pabrik ini adalah bagian dari komitmen perusahaan untuk meningkatkan industri pupuk di Indonesia, di mana satu pabrik telah diresmikan dan tiga lainnya dalam tahap pembangunan. Dengan langkah ini, diharapkan sistem pangan di Indonesia dapat bertransformasi menjadi lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.