businessadviceserviceblog.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat, 2 Januari, ditutup melemah 38 poin atau 0,23 persen, menjadi Rp16.725 per dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan ketidakpastian geopolitik yang berlanjut.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pasar tengah mencermati risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dirilis pekan ini. Risalah tersebut mencerminkan pandangan beragam di kalangan pejabat Federal Reserve (The Fed) mengenai arah suku bunga di masa mendatang. Sementara sebagian pejabat menyarankan untuk mempertahankan suku bunga setelah tiga kali pemangkasan tahun lalu, yang lainnya mengemukakan kemungkinan penurunan lebih lanjut jika inflasi menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Selain itu, ketegangan geopolitik juga memberikan tekanan pada rupiah. Konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memanas, dengan kedua belah pihak saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil, terutama pada Hari Tahun Baru. Situasi ini berlangsung di tengah upaya diplomasi yang intensif oleh Presiden AS, Donald Trump, yang berusaha mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Secara keseluruhan, kondisi ini menciptakan ketidakpastian di pasar yang mempengaruhi nilai tukar rupiah. Pelaku pasar diharapkan untuk terus memantau perkembangan kebijakan moneter dan situasi geopolitik yang dapat memengaruhi perekonomian domestik.