businessadviceserviceblog.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada Senin sore, 27 Oktober 2025, menyusul tindakan ambil untung oleh pelaku pasar setelah indeks mencapai level psikologis 9.000. IHSG mengalami penurunan sebesar 52,03 poin atau 0,58 persen, menutup perdagangan di angka 8.884,71. Di sisi lain, Indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan juga turun 1,43 poin atau 0,17 persen menjadi 866,55.
Menurut Reydi Octa, seorang pengamat pasar modal, aksi profit taking tersebut terjadi di tengah minimnya katalis baru yang mendorong pergerakan pasar. Ia menambahkan, pelaku pasar lebih memilih bersikap defensif mengetahui adanya ketidakpastian di pasar global dan potensi perubahan suku bunga. Sektor-sektor dengan risiko tinggi, terutama dari industri energi dan pertambangan, mengalami koreksi yang signifikan, dan ini berkontribusi terhadap penurunan IHSG keseluruhan.
IHSG dibuka dengan tren positif pada sesi pertama namun bergerak ke zona merah di sesi kedua. Enam sektor menunjukkan penguatan, dengan sektor barang konsumen non-primer naik 2,81 persen, diikuti sektor industri dan transportasi yang masing-masing naik 2,54 persen dan 2,26 persen. Sebaliknya, sektor infrastruktur mengalami penurunan terbesar sebesar 0,94 persen.
Sejumlah saham seperti MSKY dan DKHH mencatatkan kenaikan tertinggi, sedangkan saham HILL dan NRCA mengalami penurunan drastis. Di pasar perdagangan, tercatat 5.072.603 transaksi dengan total nilai mencapai Rp40,10 triliun, di mana 279 saham naik, 435 saham turun, dan 97 saham stagnan.
Secara regional, sebagian besar bursa saham Asia mengalami penguatan, meskipun indeks Nikkei di Jepang ditutup karena hari libur nasional.